BERBUAT BAIK BISA MENDAPATKAN REJEKI (3)
Ditulis oleh CenJing pada tanggal 16-08-2009.
Karyawan yang ditugaskan selama 2 tahun di kota Samarinda, setelah masa tugas selesai dia kembali ke kota asalnya. Kemudian pada sekitar bulan Nopember 1989, dia kembali ditugaskan ke kota Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk mengantar barang dagangan oleh perusahaan.
Saat itu, karyawan tersebut sudah mempunyai keinginan untuk berusaha sendiri, menurut pandangannya berwiraswasta sendiri lebih leluasa bergerak, mau kerja apa lebih bebas, tidak terikat dengan peraturan perusahaan tempat berkerja. Jadi dalam penugasan ke kota Kupang tersebut dia akan menyelesaikan tugas yang diberikan dari perusahaan dengan baik-baik, dan sebelum berangkat ke kota Kupang, dia telah mengatakan niatnya untuk berusaha sendiri.
Sesampainya di kota Kupang dia menyerahkan barang yang dipesan oleh pembeli dan serah terima barang sudah selesai, dia tidak langsung pulang, tapi tinggal beberapa hari di kota Kupang.
Lewat beberapa hari, ada seorang pemuda tetangga yang bekerja di kantoran perusahaan nasional dimana tugasnya selalu berhubungan dengan ternak sapi, dia harus sering datang ke kandang sapi. Pada hari itu, di saat dia datang ke kandang sapi, tiba-tiba merasa bagian muka dibawah mata ada gatal-gatal, tanpa pikir panjang, dia langsung menggaruk di tempat gatal dan terjadi luka. Sesampainya dirumah luka tersebut mulai membengkak, rupanya luka garuk di kandang sapi kena bakteri/virus, mungkin dari kotoran sapi, dia datangi dokter untuk berobat, tapi lewat 2 hari bengkaknya tidak nampak mengempes. Saat itu karyawan tersebut pernah tanya kondisinya, dia menjawab belum sembuh dan masih bengkak.
Melihat kondisi seperti itu, karyawan tersebut menawarkan obat koyo untuk dicoba tempel pada bagian muka yang membengkak. Pemuda tersebut mau menerima dan mau mencoba, maka diberikan koyo ramuan tradisional dari obat-obatan tionghoa seperti yang pernah diberikan oleh karyawan tersebut pada serorang anak kecil yang muka, leher dan tangannya penuh dengan bisul bernanah saat di kota Samarinda.
Cara pakai koyo tersebut dijelaskan kepada pemuda tersebut, yaitu ditempelkan pada bagian bengkak dimuka, setelah lewat 1 malam, pada hari esoknya bengkak dibagian muka sudah mengempes, karyawan itu bertanya kepada pemuda itu, apakah bengkak dibagian muka sudah membaik ? Pemuda itu menjawab, dengan kalimat yang sangat-sangat tidak berterima kasih. Dia menjawab : sudah lebih baik dan kempes, itu berkat pemberian obat dari dokter yang dia kunjungi.
Mendengar cara jawab pemuda tersebut, karyawan tersebut tidak marah malah tersenyum, dia berpikir dalam hati, ternyata ada orang semacam begini, mau menerima pertolongan yang diberikan tapi tidak mau berterima kasih, malah mengeluarkan kata-kata yang seolah-oleh tidak pernah mendapat bantuan dari dia. Karyawan itu berpikir lagi, mungkin saja bengkak di pipinya betul-betul dari obat dokter, tapi sebagai seorang gentelmen yang berpendidikan yang mau menerima pertolongan dari orang lain seharusnya berterima kasih atas niat baiknya orang tersebut, tapi dia berbeda, mungkin kurang pendidikan.
Dari sini karyawan tersebut mendapat satu “pengetahuan baru”, menurut karyawan tersebut ternyata sifat orang bisa berbeda-beda, antara lain :
Ada yang mau menerima bantuan orang lain dan mau berterima kasih.
Ada yang mau menerima bantuan orang lain, tapi tidak mau berterima kasih.
Ada yang tidak mau menerima bantuan dan tidak mau berterima kasih.
Dan mungkin masih ada sifat-sifat yang lain yang belum sempat dia pikirkan.
Yang mau menerima bantuan orang lain dan mau berterima kasih telah dia jumpa di kota Samarinda, ibu dari anak yang penuh bisul adalah seorang yang menurut pandangan sepintas sepertinya tidak berpendidikan tinggi, mungkin saja tidak selesai SMP atau SMA, tapi dia tahu berterima kasih.
Yang mau menerima bantuan orang lain, tapi tidak mau berterima kasih kemungkinan adalah orang yang dia jumpa di kota Kupang ini, seorang karyawan perusahaan nasional yang besar, kerjanya dikantoran dan sering harus ke kandang sapi, yang tentu saja menurut pandangan karyawan tersebut saat itu dia pernah mendapat pendidikan formal yang cukup tinggi/tinggi.
Yang tidak mau menerima bantuan orang lain dan tidak mau berterima kasih rupanya belum pernah dijumpai, tapi dia mempunyai keyakinan pasti ada orang semacam ini.
Setelah kejadian ini, karyawan tersebut tidak mempermasalah hal yang sepele ini, karena semua yang telah dia kerjakan diatas adalah sifat yang “Wu We”, yang artinya dia melakukan suatu sama dengan tidak melakukan sesuatu (catatan : ini adalah bahasa filsafat yang harus ditafsirkan dengan baik-baik, mungkin tafsiran anda terhadap filsafat tersebut bisa berbeda.)
Pada malam di hari itu, sebelum tidur karyawan tersebut berdoa kepada Tuhan, dalam doa nya karyawan tersebut intinya menginginkan agar bisa berwiraswasta, karena saat itu dia sudah tidak bekerja lagi, dia telah mengunduri diri dari perusahaan tempat dia berkerja dengan baik-baik karena ingin berusaha sendiri.
Saat tidur, dia mimpi duduk di satu kursi meja kerja. Dia di datangi seseorang lelaki yang berbadan agak besar berumur kira-kira diatas 40 tahunan dengan membawa satu bungkusan dari kain yang ukurannya kira-kira 70 cm x 70 cm x 70 cm. Bungkusan kain tersebut di taruh diatas meja kerjanya, kemudian dibuka kainnya. Nampak tumpukan-tumpukan uang banyak sekali yang telah diikat dan disusun dengan rapi. Orang yang membawa bungkusan itu berkata : “Ini adalah sejumlah uang milik dari 3 orang, jika kamu mau pakai kamu boleh ambil dulu”. Dalam mimpi itu karyawan tersebut kemudian mengambil beberapa bendel uang yang sudah diikat rapi, kemudian dia bangun dari tidur. Sambil memikirkan makna dalam mimpi itu, mungkin akan dapat rejeki lagi.
Setelah balik dari tugas di kota Kupang, karyawan tersebut kembali ke kota tempat tinggalnya, dia coba berusaha, tempat usahanya adalah rumahnya sendiri yang tidak besar, cara usahanya adalah “door to door”. Dan ternyata orderan yang dia dapatkan terus menerus, selama 6 bulan dia telah mengumpulkan sejumlah uang kemudian dia menyewa sebuah toko dan nampaknya dia mendapatkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan gaji yang diterima selama masih bekerja.