MERESPON INFORMASI SUARA HATI
(Untuk Kalangan Sendiri-Umat TAO)
Ditulis oleh CenJing pada tanggal 25-08-2009.
Pada suatu malam hari terjadi disekitar tahun 1998, seorang pemuda tiba-tiba memikirkan teman lamanya yang tinggal di tempat kurang lebih jarak 9 kilo meter dari tempat tinggalnya. Munculnya keinginan untuk mendatangi rumah dan menjumpai temannya itu membuat pemuda itu berpikir : kenapa hati saya berkeinginan untuk mendatangi rumahnya ? Pemuda itu hanya pikirkan, tapi dia tidak lakukan apapun.
Pada malam hari esoknya, pikiran dan keinginan timbul lagi ingin mengunjungi temannya, tapi pemuda tersebut tidak pergi juga, dia berpikir mungkin terlalu lama tidak jumpa dengan mereka (temannya dan saudara-saudaranya) membuat timbulnya niat tersebut. Tapi kenapa ?
Teman tersebut adalah teman yang dia kenal pada awal tahun 80-an, pada saat itu pemuda tersebut bersama-sama dengan teman yang lain sering kumpul-kumpul bicara di malam hari. Setelah masing-masing teman mempunyai kesibukan sendiri-sendiri, mereka tidak pernah kumpul lagi dan pemuda tersebut juga tidak datang lagi kerumah temannya itu.
Beberapa hari secara terus menerus selalu muncul keinginan mendatangi rumah orang tersebut. Akhirnya dia ambil keputusan untuk mengunjunginya, dia menggunakan sepeda motor pada sekitar jam 19.00 mengunjungi mereka (teman dan saudaranya).
Sesampainya di depan rumah temannya itu, dia mengetuk pintu untuk masuk. Temannya itu mendengar ketukan pintu dan membukanya, rupanya agak heran, mengapa teman ini sudah lama tidak ada kontak dengannya tiba-tiba datang berkunjung.
Hai, apa kabar, sapa temannya pada saat membuka pintu, silahkan masuk. Pemuda itu menjawab, baik-baik saja, saya datang ingin ngobrol-ngobrol dengan kalian, kemudian dia masuk ke dalam rumah dan duduk dikursi tamu.
Di dalam rumahnya dia melihat adik perempuannya sedang menggunting kain untuk buat baju, profesi mereka adalah sebagai penjahit pakaian. Sedangkan adiknya yang laki sedang duduk dengan kondisi badan yang kurang sehat, sebelah kakinya kurus mengecil dan pada saat jalan terlihat kurang normal.
Melihat kondisi tersebut pemuda ini bertanya pada temannya. Adikmu ini kenapa ?
Dia menjawab : beberapa tahun yang lalu adik (lelaki) nya ke Surabaya bekerja di tempat keluarga, dia berkenalan dengan seorang wanita yang juga bekerja disana dan terjadilah saling jatuh cinta. Adiknya menyampaikan maksudnya kepada keluarganya pada tempat dia bekerja, bahwa dia bermaksud menikahi wanita tersebut, rupakan mereka (keluarganya sendiri) tidak setuju, karena ada perbedaan yang sangat jauh antara adiknya dengan wanita itu. Agar supaya hubungan dengan wanita itu tidak berlanjut, akhirnya adiknya diberhentikan dari kerjaannya dan disuruh pulang dari Surabaya.
Setelah sampai di rumah tempat tinggalnya, terjadi suatu hal yang menimpa diri adiknya. Tiba-tiba saja dia stroke, sebelah kakinya jadi mengecil. Setelah itu emosinya jadi tidak baik, suka marah-marah, sering banting bangku, banting pintu (tutup pintu dengan keras) dan emosi ini sering timbul tanpa ada alasan yang jelas, sering membuat tamu yang hendak jahit baju jadi agak takut karena emosinya muncul tiba-tiba, yang membuat kakak-kakaknya jadi tidak enak.
Mendengar penjelasan tersebut, pemuda itu bertanya. Apakah sudah dibawa ke dokter untuk diperiksa. Sudah sering dibawa ke dokter, dan sudah banyak sekali uang yang dikeluarkan untuk mengobati dia, saat ini dia sudah bisa jalan tapi belum sembuh total seperti semula. Kami tidak mengerti mengapa ini bisa menimpa dirinya.
Pemuda itu melanjutkan pertanyaan, apakah sudah mohon bantuan para Dewa-Dewi di Kelenteng ? Sudah jawab mereka, bahkan kami sudah membaca doa Dewi Kwan In, saat ini doa kami sudah lebih dari 1000 kali. Mendengar hal tersebut, pemuda itu berpikir : rupanya doa ini…
Pemuda itu coba melihat dengan pandangan penuh perhatian kepada adiknya tersebut, maka terjadilah saling pandang antara adiknya dengan pemuda itu. Adiknya langsung menunduk kepala tidak berani melihat mata pemuda itu. Saling pandang ini membuat pemuda itu berpikir, rupanya mereka harus dibantu untuk keluar dari masalah ini…
Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya pemuda itu pulang. Pada malam hari berikutnya pemuda itu datang lagi, datang kali ini dia membawa beberapa lembar “HU”, diberikan kepada temannya dan sekaligus menjelaskan cara-cara memakainya.
Pada pembicaraan berikutnya temannya banyak menceritakan hal-hal yang ada hubungan dengan adiknya, dikatakan ada seorang teman lain pernah beberapa kali datang untuk mengobatinya dengan tenaga dalam, tapi tidak juga berhasil, dan teman yang lain juga mencari seseorang yang katanya bisa mengatasi masalah tersebut, orang tersebut memberi satu bungkusan kecil dan dipesan menaruhnya dibawa bantal tempat tidur adiknya, tapi malah membuat adiknya jadi sulit tidur.
Mendengar perkataan tersebut, pemuda tersebut bertanya, barang yang diberikan itu apakah masih ada, bolehkah saya melihatnya. Maka dikeluarkanlah sebuah bungkusan kecil dari kain, setelah melihat-lihat, pemuda itu tidak banyak bicara, dia bertanya balik, mengapa harus ditaruh dibawah bantal ?
Setelah mendengar pertanyaan dari pemuda itu seperti mengingatkan sesuatu kepada mereka, lantas mereka berkeinginan untuk membuang bungkusan itu, tapi pemuda itu berkata, jangan dibuang dulu. Coba anda bungkus bungkusan tersebut dengan HU tadi, taruh disamping rumah, lihat apakah ada perubahan pada adikmu.
Pada malam hari esoknya, pemuda itu datang lagi, temannya berkata dia mendapat mimpi, dalam mimpi itu ada seekor ular berada dalam suatu jaring. Ular itu berubah jadi kecil, jaringnya ikut jadi kecil, ularnya berubah menjadi sangat besar, jaringnya juga ikut membesar. Saya tidak mengerti apa maksud dari mimpinya itu.
Setelah ngomong-ngomong cukup lama, akhirnya pemuda itu berkata, sembahyanglah kepada para Dewa. mohon petunjuk, mohon perlindungan dan sekaligus mohon bantuan dari para Dewa, mudah-mudahan ada hasilnya.
Setelah mendengar perkataan pemuda itu, temannya ambil keputusan untuk mohon bantuan kepada para Dewa. Setelah mereka menyiapkan diri dan waktu untuk sembahyang, mereka datang memohon kepada Maha Dewa Dai Sang Law Cin pada Cen Jing Kong, saat pulang pemuda itu berpesan, beberapa gelas air yang ada di altar Maha Dewa Dai Sang Law Cin anda boleh bawa pulang, berikan minum pada adikmu itu.
Keesokan harinya, mereka memberi minum air yang dibawa pulang kepada adiknya. Saat minum air satu teguk, adiknya jadi ngamuk, dia mengambil gunting mau menikam kakaknya. Untung saja mereka bisa menghindar sehingga tidak terjadi cedera.
Pada malam hari setelah peristiwa itu, pemuda itu mendapat mimpi dia berjumpa dengan 5 orang gadis-gadis cantik, salah seorang dari 5 orang tersebut adalah pimpinan mereka dan wajahnya sangat cantik, rupanya mereka tidak senang karena pemuda tersebut sudah turut campur dan terjadilah perkelahian antara pemuda itu dengan ke 5 gadis cantik dalam mimpi, dan perkelahian tersebut berlangsung tidak ada yang menang maupun kalah.
Pada malam hari itu juga adiknya yang telah minum air yang dibawa pulang oleh kakaknya mendapat mimpi, dia berjumpa dengan seorang tua berjanggut yang memarahinya : bangku, pintu tidak salah kenapa kamu banting-banting, mereka (kakak-kakakmu) tidak salah mengapa kamu marah-marah, semua itu adalah kesalahan dirimu sendiri, besok kamu harus sembahyang minta maaf pada langit (Tuhan) atas semua kesalahan yang pernah kamu buat. Dia terkejut dan bangun dari mimpi. Pada hari esok harinya dia menceritakan mimpinya pada kakaknya dan minta ijin untuk sembahyang kepada langit (Tuhan), kakaknya memberi ijin, setelah itu tidak pernah lagi mendengar adiknya marah-marah lagi.
Setelah peristiwa ini berlalu, keinginan untuk datang kerumah temannya tidak muncul lagi dalam hati pemuda itu. Entah kenapa ?