CenJing (正清)

正本清源
正其本 則末自正
清其源 則流自清

Links

Subscribe by Email



Email : cenjing@cenjing.com

Dijual sebidang Tanah Pekarangan di Jalan menuju pelabuhan Lembar di Lombok. Disekitar tanah tersebut terdapat banyak rumah walet. Sertifikat : Hak Milik. Bagi yang berminat dapat menghubungi 081.836.2518.

Dijual Tanah Di Senggigi, daerah Wisata di Lombok. Sertifikat Hak Milik, luas tanah : 16.335 m2. Untuk informasi lebih lengkap silahkan visit : www.supermulty.com. Bagi yang berminat, dapat menghubungi : 081.836.2518.

www.supermulty.com
Tue Mar 16

PERJALANAN SATU ABAD-1

Sub Judul : Jasa Kedua Orang Tua Paling Besar.

Ditulis oleh CenJing, pada tanggal 16 Maret 2010

Disebuah  rumah bersalin nampak seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun sedang mondar-mandir di depan pintu kamar bersalin, dia kelihatan sedang tidak sabar menunggu kelahiran sang putra pertamanya yang menurut keterangan dokter kandungan bayinya adalah seorang laki-laki setelah di USG.

Di depan kamar bersalin juga ada 2 orang wanita, yang satu adalah adik sang ayah dan yang satu adalah adik sang istri yang segera akan melahirkan anak, mereka sama-sama menunggu kehadiran sang bayi.

Pada saat terdengar suara tangis keluar dari dalam kamar bersalin, pemuda beserta 2 orang wanita tampak tertawa senyum, dalam hati mereka mengatakan, akhirnya tiba saatnya yang kita nantikan yaitu kehadiran seorang anak bayi.

Tangisan sang bayi menurut cerita orang-orang mengatakan bahwa sang bayi mengetahui kehadiran di dunia ini adalah suatu penderitaan, itu sebabnya dia menanggis, tapi menurut versi lain yang tercatat dalam buku catatan tangan (catatan pribadi shinshe) pengobatan tionghao tempo doeloe mengatakan, tangisan tersebut akan membuat saraf depan (ren mek) dan saraf belangkang (tu mek) menjadi tidak berhubungan langsung terus menerus (“terputus”), yang maksudnya kedua saraf tersebut terhubung berdasarkan waktu (jam) setiap hari. Dan pada saat bayi menangis ini, dia sudah mulai bernapas dengan hidungnya sendiri.

Pada saat bayi masih di dalam kandungan ibu, dia bernapas dan mendapat supply makanan dari sang ibu melalui saluran yang menghubungi pusar sang bayi (tali pusar) dan pada saat sang bayi lahir, jika sang bayi tidak/belum menangis, maka napas dan supply makanan masih berasal dari ibunya, pada saat ini salurah ke pusar sang bayi (tali pusar) belum boleh digunting, harus menunggu bunyi tangisan dari bayi dulu. Dan biasanya para dokter/suster yang menangani kelahiran bayi menepuk bagian pantat bayi secara perlahan agar sang bayi menjadi nangis. Jika sudah terdengar suara tangisan dari sang bayi, dikatakan pada saat itu bayi sudah bernapas sendiri dan supply makanan dari saluran ke pusar bayi sudah berhenti dan saluran tali pusar sudah boleh digunting.

Jika tepukan ringan dokter/suster belum menyebabkan bayi belum menangis, menurut catatan tangan (catatan pribadi shinshe) dari buku pengobatan tionghoa tempo doeloe tertulis boleh menggunakan api dari korek api (api yang kecil) membakar (memberi kejutan) saluran ke pusar bayi agar ada hawa panas (Yang Chi) yang masuk ke tubuh bayi sehingga dia bisa nangis dan bernapas sendiri, begitu kira-kira yang tercatat dalam catatan buku pengobatan tionghoa tempo doeloe, tentu saja pengetahuan kedokteran saat ini yang modern dan lebih maju mungkin mempunyai penjelasan yang berbeda, saya harap para pembaca tidak perlu memperdebatkan hal ini, karena ini adalah catatan pribadi shinshe tempo doeloe.

Menurut para peramal yang meramal nasib berdasarkan tanggal lahir, pada saat bayi lahir ke dunia, tangisan ini merupakan saat pertama kali dia menghirup udara (energi positif atau Yang Chi dari alam) dan waktu inilah yang dipakai sebagai patokan untuk menentukan jam lahir.

Demikian juga di rumah bersalin yang ada di tempat lain, begitu banyak bayi yang akan lahir dalam waktu yang hampir bersamaan; Yang menunggu kelahiran bayi tertawa saat bayi lahir, sedangkan bayinya pada nangis. Dengan menggunakan patokan tanggal lahir untuk meramal nasib, mereka yang lahir dalam waktu yang hampir bersamaan apakah memiliki nasib yang sama ?

Waktu berjalan terus tidak menunggu siapapun, sang bayi yang telah lahir mendapat perhatian sepenuhnya dari orang tuanya. Mereka (ortu) dengan hati-hati dan penuh kasih sayang memelihara sang bayi. Saat bayi nangis segera dicari penyebab bayi jadi nangis dan segera diatasi, mungkin bayi sudah lapar, mungkin mau kencing atau buang air besar, sang ibu dengan sabar dan teliti memelihara, melindungi sang bayi. Jika ada kesulitan keuangan untuk memelihara sang bayi, maka sang ibu (ortu) dengan penuh semangat tanpa mengenal lelah untuk mencari nafkah agar sang bayi bisa tumbuh jadi anak remaja yang sehat…

Saat usia sekolah, orang tua mencari uang membiayai sang anak untuk sekolah, ada yang kurang beruntung utang sana sini agar anak mereka bisa mendapat pendidikan, pakaian dan tempat tidur yang lebih baik, mereka siap menderita demi anaknya.

Setelah dewasa, orang tua selalu mengharapkan anaknya menjadi orang yang berguna baik untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk masyarakat dan untuk negara. Begitulah kira-kira jiwa seorang ibu yang dengan kesabaran, dengan ketekunan memelihara dan melindungi anaknya dari bayi hingga dewasa, tanpa mengharapkan sesuatu balasan dari sang anak.

Saat anaknya sudah berkeluarga, sang ibu masih dengan penuh walas kasih terhadap anaknya dan mengharapkan anaknya bisa hidup bahagia.

Sebagai seorang anak, untuk membalas budi jasa kedua orang tua, yang perlu dilakukan adalah berbuatlah sesuatu agar mereka bisa jadi senang dan bahagia, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan negara, termasuk sering berbuat amal, karena berbuat amal akan membuat mereka jadi senang…

Anak yang sudah menikah dan istrinya yang sudah hamil, mereka juga akan mempunyai jiwa yang penuh walas kasih terhadap bayi dalam kandungan, menanti-nantikan kelahiran anaknya. Setelah bayi lahir, mereka juga dengan penuh perhatian memeliharan dan melindungi anaknya hingga tumbuh menjadi dewasa…

Comments (View)